Saturday, October 19, 2013

Program Bank Sampah

Judul: Program Bank Sampah
Topik: Perusahaan dan Lingkungan Perusahaan



BAB I
 
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

     Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh negara di dunia. Tidak hanya di negara-negara berkembang, tetapi juga di begara-negara maju. Sampah selalu menjadi masalah. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa diapa-apakan lagi. Dari hari ke hari sampah itu terus menumpuk dan terjadilah bukit sampah seperti yang sering kita lihat.
     Sampah yang menumpuk itu, sudah tentu akan menunggu penduduk di sekitarnya. Selain baunya yang tidak sedap, sampah sering dihinggapi lalat. Dan juga dapat mendatangkan wabah penyakit. Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan, tetapi ada sisi manfaatnya. Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat, sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menanganinya.
     Namun semenjak PT. PLN (Persero) menyulapnya menjadi uang melalui program Bank Sampah di daerah Surabaya dan Malang. Sampah selalu menjadi masalah utama yang selalu mengganggu lingkungan, terutama penyebab banjir karena menyumbat aliran sungai. Tidak adanya kepedulian dari masyarakat, penanganan sampah yang tidak terintegrasi dan penyelesaiannya masih konvensional, menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang hingga kini belum terselesaikan.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Siapa yang memiliki ide pertama Bank Sampah?

1.2.2. Apa manfaat dari adanya Bank Sampah?

1.2.3. Berapa banyak jumlah Bank Sampah di Surabaya dan Malang?

           1.2.4. Berapa anggaran yang dikeluarkan oleh PLN untuk membangun Bank Sampah?

           1.2.5. Berapa penghasilan dari mengumpulkan sampah tersebut?

1.3. Tujuan Penulisan

     Tujuan penulisan ini adalah agar kita dapat termotivasi untuk memanfaatkan sampah yang ada disekitar kita seperti Bank Sampah. Kita akan mendapatkan keuntungan yang tidak terduga daripada membiarkan sampah yang setiap harinya semakin merusak lingkungan dan menambah penyakit. Banyak manfaat yang kita dapat dalam mengolah sampah. 


BAB II

LANDASAN TEORI


     Perusahaan adalah suatu tempat untuk melakukan kegiatan proses produksi barang atau jasa.
     Menurut pendapat Kansil (2001: 2) definisi perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan didirikan, bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan laba.
     Menurut Swastha dan Skotjo (2002: 12) definisi perusahaan adalah suatu organisasi produksi yang menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomi untuk memuaskan kebutuhan dengan cara yang menguntungkan.
     Sedangkan menurut pendapat lain pengertian perusahaan ialah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor-faktor produksi.
     Berdasarkan definisi perusahaan diatas dapat disimpulkan bahwa perusahaan merupakan salah satu bentuk usaha yang mencari suatu keuntungan atau laba, baik yang bergerak dalam bidang usaha perdagangan, produksi barang, dan jasa yang dimiliki suatu struktur organisasi, manajemen, lokasi dan karyawan atau pegawai.



     

BAB III

PEMBAHASAN


     Sampah selalu menjadi tersangka utama pengganggu lingkungan, terutama penyebab banjir karena menyumbat aliran sungai. Tidak adanya kepedulian dari masyarakat, penanganan sampah yang tidak terintegrasi dan penyelesaiannya masih konvensional, menjadi setumpuk pekerjaan rumah pemerintah yang hingga kini belum terselesaikan.
     Namun tidak lagi Surabaya dan Malang. Menurut mereka, sampah adalah uang, semenjak PLN menerapkan metode Bank Sampah tahun 2011. Tiap kali melihat sampah, mereka tidak ragu untuk mengambilnya. Jika ada sampah di sungai, mereka berani berkata, "orang kota sedang bagi-bagi uang". i Made Brata, Senior CSR PLN, mengatakan mengedukasi masyarakat mengubah mindset sampah adalah uang, jauh lebih mahal.
     Menurut Mirza, Deputy Manager Administrasi Keuangan dan Pelapor PKBL PLN, selama ini sampah dikumpulkan dan ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (PTA), selanjutnya dipisahkan oleh pemulung. PLN berupaya memotong rantai itu langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga. Metode ini pun memberikan solusi bagi PLN menertibkan sambungan liar yang selama ini sering dijumpai di kawasan padat penduduk. Alhasil, risiko korslet dan kebakaran dapat diminimalisir.
     Konsep ini berawal dari dosen di sebuah Universitas Bantul, Yogyakarta, Bambang Suwerda. PLN mengembangkan ide itu menjadi program social entrepreneur dengan pengelolaan manajemen sederhana dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan.
     PLN menanamkan program ini, Bank Sampah. Penanaman itu bukan tanpa alasan. Selain terdengar keren, bank juga identik dengan uang. Melalui Bank Sampah, PLN memberi pemahaman baru kepada masyarakat soal pemanfaatan sampah. Sama seperti bank pada umumnya, Bank Sampah memiliki nasabah. Selain mendapat buku tabungan, mereka diajarkan cara mengumpulkan dan memilah sampah. Bedanya, mereka tidak menyerakhan uang, melainkan sampah teller Bank Sampah, kemudian dikonveksi menjadi tabungan dan bisa diuangkan. Salah satunya, memanfaatkan tabungan mereka untuk membayar biaya sekolah anak atau untuk pinjaman modal.
     Metode ini pun memberikan solusi bagi PLN menertibkan sambungan liar yang selama ini sering dijumpai di kawasan padat penduduk. Alhasil, risiko korslet dan kebakaran dapat diminimalisir. Karena mereka dapat membayar listrik dengan sampah secara online via Bank Sampah.
     Dengan segala manfaat itu, tanpa terasa Bank Sampah sudah tersebar lebih dari 400 titik di Surabaya dan Malang, merangkul 28 ribu nasabah, mengelola 3500 kg per hari, dan menghimpun pendapatan total per bulan mencapai Rp 196 juta.
     Niat baik tak selalu mulus. Pengalaman ini pula yang dialami PLN saat pertama kali mengajak warga Bratang Lapangan, Surabaya membangun Bank Sampah. Awalnya, mereka menolak karena membayangkan wolayah mereka bakal kumuh dan bau seperti pemandangan di TPA/. Padahal tempat, cara pengelolaan, tampilan pegawai Bank Sampah bersih seperti bank pada umumnya. Jika lokasi Bank Sampah terlalu jauh untuk dijangkau, sampah akan diangkut menggunakan mobil pengangkut dan ditimbang dititik yang telah disepakati.
     Anggaran PLN untuk membangun Bank Sampah skala kecil boleh jadi hanya Rp 10 juta atau Rp 500 juta untuk skala besar guna menyediakan tempat, buku tabungan, timbangan, mobil pengangkut, mesin penggiling, dan alat penunjang lainnya.
     Warga mulai tertarik ketika mengetahui tiap sampah yang mereka kumpulkan bernilai dan akan dihitung secara terperinci. Contohnya satu botol air mineral yang dibawa ke Bank Sampah memiliki tiga nilai berasal dari botol, tutup botol, dan labelnya. Agar harganya berdaya saing, sampah yang diserahkan ke Bank Sampah memiliki nilai jual Rp 6000 per kg, lebih tinggi ketimbang jika mereka yang menyetorkan ke pengepul. Sebab, sampah yang diperoleh langsung dari rumah tangga lebih bersih dan utuh daripada sampah yang didapat dari TPA. Selanjutnya, sampah yang masuk ke Bank Sampah terintegrasi ke pabrik-pabrik dengan margin bervariasi.
     Keberadaan Bank Sampah menjadi berkah karena membuka lapangan pekerjaan sekitar 20 tenaga kerja, mulai dari tenaga kerja pengelola hingga penortir. Seperti cerita salah satu penyortir yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung. Semenjak ada Bank Sampah, ia mendapatkan penghasilan tambahan Rp 800 ribu per bulan.
     Bank Sampah terbukti ikut menyelamatkan lingkungan, seperti mengembalikan fungsi mangrove di Bintang Mangrove, Surabaya. Tadinya, Mangrove di daerah tersebut terancam hilang, saking banyaknya akar mangrove yang tercabut karena berat membawa beban sampah yang tersangkut di badan tanaman. Semenjak ada Bank Sampah, masyarakat sukarela mengambil sampah untuk kemudian diserahkan ke Bank Sampah. tak terkecuali, nelayan yang kini tak sekedar membawa ikan, tapi juiga sampah. Hasilnya, sangatlah kompetitif. Penghasilan dari mencari ikan Rp 50 ribu, sementara pendapatan dari mengumpulkan sampah bisa mencapai Rp 100 ribu per hari. Dengan bangga, pada nasabah pun tidak sungkan memamerkan uang tabungan, hasil jerih payah mengumpulkan sampah. Ada yang sudah mengumpulkan Rp 1,8 juta, hingga yang tertinggi Rp 2,5 juta.
     Kesuksesan program ini membawa PLN mendapatkan penghargaan Indonesia  Green Award 2013, Mei lalu. Keberhasilan ini pun langsung menjadi sorotan, tak hanya dari kota tetangga, seperti Malang, tetapi juga percontohan bagi negara ASEAN. Sekarang memiliki titik Bank Sampah terbanyak. Di kota apel itu pula, berdiri Bank Sampah terbesar. Satu diantaranya, menerima sampah basah untuk kemudian dikelola menjadi kompos dan dimanfaatkan sebagai media beternak cacing yang hasilnya akan diekspor ke Cina.
     Selanjutnya, PLN sedang melakukan social mapping di daerah padat penduduk seperti Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, dan Bali. Sadar tidak bisa bekerja sendiri, PLN berharap aktivitas mereka menjadi gerakan nasional.


BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

     Dari uraian pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa metode Bank Sampah yang dilakukan PLN sangat patut ditiru. Sampah yang tadinya merugikan bisa menjadi menguntungkan. Dengan keberadaan Bank Sampah juga mendatangkan manfaat. Salah satunya membuka lapangan pekerjaan. Dengan mengumpulkan sampah saja, bisa mendapatkan penghasilan yang cukup lumayan besar setiap harinya. Namun, metode ini merugikan untuk para pengepul. Bank Sampah pun ikut menyelamatkan lingkungan meskipun tidak secara langsung. Contohnya saja, mengembalikan fungsi mangrove di Surabaya. Dan pada akhirnya program Bank Sampah mendapatkan penghargaan pada bulan Mei lalu.

B. SARAN

     Sebaiknya program Bank Sampah ini lebih cepat dikembangkan di daerah lain yang penduduknya padat. Seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan lain-lain. Dengan adanya program ini pastinya akan membantu masalah sampah yang terjadi di daerah-daerah tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

PKBL. September 2013. "PLN Sulap Sampah Jadi Uang", hal.50-53



Nama: Indri Meidini
NPM: 24213406
Kelas: 1EB16

BUMD di DKI Jakarta

Judul: BUMD di DKI Jakarta
Topik: Bentuk-Bentuk Badan Usaha



BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

     BUMD sebagai organisasi yang memerlukan laba (profit), sehingga perlu dikelola secara profesional. Pengelolaan manajemen organisasi secara profesional ini penting untuk mewujudkan BUMD yang efektif dan efisien dalam mencapai misi organisasi. Melalui upaya tersebut diharapkan BUMD nantinya tidak saja mampu memenuhi kebutuhan sendiri tetapi juga mampu memberikan sumbangan yang besar terhadap pendapatan daerah. Tidak menutup kemungkinan BUMD itu akan menjadi salah satu "mesin uang" bagi daerah yang bersangkutan ketika otonomi daerah diterapkan sepenuhnya kelak.
     Namun untuk mewujudkan nya tidaklah mudah. Kenyataan menunjukkan hingga saat sekarang, BUMD belum mampu memberikan kontribusi yang menggembirakan bagi pemerintah daerah. Terlihat dari masih kecilnya presentase terhadap PAD yang dihasilkan setiap tahunnya.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Mengapa beberapa BUMD ingin dibubarkan?

1.2.2. BUMD apa saja yang tidak efektif dan efisien?

1.3. Tujuan Penulisan
     
     Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan pemahaman bahwa di Indonesia masih ada BUMD yang tidak efektif dan efisien. Memberikan informasi kepada pembaca bahwa banyak BUMD yang belum dikelola dengan profesional. Dan di Indonesia ada beberapa BUMD yang tidak memberikan keuntungan untuk keuangan daerah.



BAB II

LANDASAN TEORI

      Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) adalah perusahaan milik daerah yang didirikan dengan peraturan daerah berdasarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1962 dengan modal seluruh atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan (BPS 2003:1).
     Berikut adalah fungsi dan peran BUMD dalam menunjang penyelenggaraan pemerintah daerah:
  • Melaksanakan kebijakan pemerintah daerah dibidang ekonomi dan pembangunan.
  • Pemupukan dana bagi pembiayaan pembangunan.
  • Mendorong peran serta masyarakat dalam bidang usaha.
  • Memenuhi barang dan jasa bagi kepentingan masyarakat.
  • Menjadi perintis kegiatan yang tak diminati masyarakat.
     Bentuk-bentuk BUMD:
  • PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum)
  • BPD (Bank Pembangunan Daerah)
  • PT Bank Jateng
  • PT Bank DKI
  • Bank Mestika Medan
  • PERUMDA
  • PERSERODA
  • PT (Perseroan Terbatas)
     Kinerja BUMD:
  • Membayar hutang-hutangnya terutama jangka pendek (diukur oleh liquiditas)
  • Menghasilkan keuntungan (diukur oleh rentabilitas)
  • Aktiva/kekayaannya cukup/lebih besar dari hutang-hutangnya (diukur oleh solvabilitas)


BAB III

PEMBAHASAN

     Kepala BPMP DKI Jakarta, Catur Laswanto mengakui ada beberapa BUMD yang kinerjanya tidak baik sehingga kegiatan perusahaannya malah menjadi beban bagi Pemrov DKI. Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat 68 BUMD yang merugi di seluruh Indonesia. Perusahaan yang merugi akan dibubarkan, dijual sahamnya, atau digabung badan usaha lain yang menguntungkan. Idealnya, Badan Usaha Milik daerah menguntungkan bagi keuangan daerah. Selamat Nurdin, Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta menilai, jika dikelola dengan serius, BUMD dapat menjadi sumber pendapatan selain pajak. Saat ini, tim khusus sedang bekerja untuk mengkaji keberadaan BUMD tersebut.
     Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama mengtakan, ada sejumlah BUMD yang memiliki kesamaan dalam hal tugas sehingga kinerja mereka tidak efektif dan efisien. Selama ini tidak banyak pendapatan dari mereka yang masuk ke kas daerah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun berencana mengurangi jumlah BUMD.
     Perusahaan negara tersebut sedang dalam proses pendataan dan perhitungan, mana yang tidak dapat dijalankan lagi dan mana yang masih berpeluang diberi Penyertaan Modal Pemerintah (PMP). Ataupun nantinya akan digabungkan dengan BUMD lain.
     BUMD yang tidak memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dua tahun terakhir antara lain PD Dharma Jaya, PT Cemani Toka, PT Ratax Armada, PT Delta Jakarta Tbk, PT Pakuan, PT Graha Sahari Suryajaya, Rumah Sakit Haji, dan PT Mass Rapid Transit. Sebanyak 1.007 jumlah BUMD perusahaan di seluruh Indonesia, ternyata sekitar 80 persen diantarannya belum dikelola secara profesional.
     Dilihat dari kepemilikan sahamnya, ada dua jenis BUMD Pemrov DKI, yaitu BUMD yang semua sahamnya dimiliki Pemrov DKI dan BUMD yang berupa saham patungan dengan badan usaha milik nasional atau perusahaan swasta.
     Menurut Direktur Utama Perusahaan Daerah Dharma Jaya Kusuma, Andika, mengaku ada persoalan manajemen di perusahaan yang dipimpinnya. Persoalan itu terjadi sejak krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1997 sehingga perusahaan terbebani utang, yang menurut ukuran usaha Dharma Jaya terbilang besar. Lantaran persoalan itu, neraca pemasukan dan pengeluaran perusahaan tidak berimbang. Pada saat yang sama, karena terbatasnya keuangan perusahaan, PD Dharma Jaya tidak dapat memanfaatkan peluang usaha yang seharusnya dapat dilakukan. Peluang yang dimaksud adalah menjadi strabilisator harga untuk Provinsi DKI Jakarta.
     Umum DPP Badan Kerjasama BUMD Seluruh Indonesia (BK BUMD-SI) Arif Afandi mengatakan, saat ini terdapat 1.007 BUMD secara nasional dengan total aset mencapai Rp 343,1 triliun.
     Memang sejak tahun lalu, Pemrov DKI ingin melikuidasi PD Dharma Jaya. Hal ini dikarenakan kondisi keuangan perusahaan tersebut sudah tidak mampu menutupi biaya operasional. Berdasarkan data Badan Penanaman Modal dan Promosi (BPMP) DKI Jakarta, PD Dharma Jaya sudah tidak menyetorkan devidennya ke kas daerah sejak tahun 2011. Deviden yang disetorkan sebelum tahun 2011 selalu menurun setiap tahunnya. Seperti deviden tahun 2010 hanya mencapai Rp 265,8 juta, menurun cukup banyak dibandingkan deviden yang disetor pada tahun 2009 sebesar Rp 354,52 juta.
     Kondisi keuangan semakin parah, karena PD Dharma Jaya masih harus melunasi kewajiban perusahaan ke beberapa bank. Kewajiban yang harus dilunasi ada sekitar Rp 2 miliar. Sebenarnya, Pemrov DKI telah memberikan Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) untuk memberikan suntikan dana segar bagi peningkatan kinerja dan menyelamatkan PD Dharma Jaya. Dalam kurun waktu 1992-2006, PD Dharma Jaya telah enam kali mendapatkan penyertaan modal hingga Rp 19,161 miliar. Sedangkan pada tahun 2010, BUMD ini telah mendapatkan suntikan modal dari Pemprov DKI sebesar Rp 9 miliar. Namun, sejak tahun 2011 hingga tahun ini, PD Dharma Jaya tidak mendapatkan PMP sebagai suntikan modal dalam menjalankan usahanya. Ini mengakibatkan BUMD ini semakin kolaps keuangannya.
     Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Pernama, Pemprov DKI menyerahkan pengkajian soal mana BUMD yang akan digabungkan atau dibubarkan kepada Asisten Perekonomian DKI Hasan Basri Saleh dan Kepala Badan Penanaman Modal dan Promosi (BPMP) Catur Laswanto.
     Apabila dilakukan dengan baik, BUMD DKI diharapkan dapat menjadi seperti perusahaan investasi pemerintah Singapura, yaitu Temasek Holdings. Sebab, Pemprov DKI sudah berencana membuat holding company yang menaungi BUMD DKI.


BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
     Dari uraian pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa beberapa BUMD di DKI Jakarta ada yang kinerjanya tidak baik. Sehingga kegiatan perusahaannya malah menjadi beban bagi Pemrov DKI. Ada persoalan manajemen di perusahaan yang terjadi sejak krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1997 sehingga perusahaan terbebani hutang. BUMD yang tidak memberikan kontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD) dua tahun terakhir antara lain PD. Dharma Jaya, PT. Cemani Toka, PT. Mass Ratax Armada, PT. Delta Jakarta Tbk., PT. Pakuan, PT. Graha Sahari Suryajaya, Rumah Sakit Haji, dan PT. Mass Rapid Transit. Dan sebanyak 1.007 jumlah Badan Usaha Milik daerah perusahaan di seluruh Indonesia, ternyata sekitar 80 persen diantaranya belum dikelola secara profesional.

B. SARAN
     Sebaiknya pembubaran BUMD yang merugi dilaksanakan lebih cepat agar daerah tidak mengalami kerugian yang begitu besar. Dengan semakin cepatnya perbaikan sistem BUMD di DKI Jakarta maka akan lebih efektif dan efisien fungsi BUMD yang sebenarnya.




DAFTAR PUSTAKA

Kompas. 15 Agustus 2013. "BUMD Tidak Efektif", hal.26




Nama: Indri Meidini

NPM: 24213406
Kelas: 1EB16

Friday, October 18, 2013

Pentingnya Merek pada Frachising

Judul : Pentingnya Merek pada Franchising
Topik : Kewiraswastaan dan Perusahaan Kecil




BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 

Dalam dunia bisnis diperlukan merek yang nantinya akan menarik konsumen. Merek yang kuat pastinya akan menduduki produk tertinggi dan akan selalu diingat oleh para konsumen. 
Di Indonesia, banyak industri franchise yang dari sisi umur masih muda dan masih dalam tahap pertumbuhan, tetapi memiliki popularitas yang sangat tinggi. Namun, popularitas itu tidak boleh lepas dari aspek keberlanjutan. Karena dalam beberapa kasus, banyak bisnis franchise yang sudah meraih kesadaran tinggi kemudian jatuh kembali, tidak bisa mempertahankannya. 
Bagi bisnis franchise, semakin terkenal, kuat, dan terpercaya mereknya maka akan memudahkan franchisor untuk memperoleh pembeli. Oleh sebab itu membangun merek, mengenalkan merek ke konsumen merupakan strategi yang sangat penting. 
Namun dalam membangun merek juga memiliki tantangan yang tidak mudah. Tantangan itu datang dari dalam dan dari luar. Dan membangun merek tidak memiliki patokan berapa lama. Tetapi kehadiran teknologi internet serta sosial media memudahkan para pebisnis untuk mempercepat pengenalan merek ke konsumen. 



1.2. Rumusan Masalah

1.2.1. Apa manfaat merek pada franchising?

1.2.2. Sulitkah membangun merek yang kuat?

1.2.3. Apa saja tantangan dalam membangun merek franchising?



1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk menambah wawasan para pembaca tentang pentingnya sebuah merek pada bisnis franchise. Memberikan pemahaman tentang arti merek franchising yang selama ini dianggap kurang penting bagi masyarakat khususnya yang ingin merambah pada bisnis franchise.





BAB II


LANDASAN TEORI

    Franchising adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat.
Menurut Campbell Black, "franchise sebagai sebuah lisensi merek dari pemilik yang mengijinkan orang lain untuk menjual produk atau service atas nama merek tersebut.
    David J. Kaufmann memberi definisi franchising sebagai sebuah sistem pemasaran dan distribusi yang dijalankan oleh institusi bisnis kecil yang digaransi dengan membayar sejumlah fee, hak terhadap akses pasar oleh franchisor dengan standar operasi yang mapan dibawah asistensi franchisor.
   Sedangkan menurut Reitzel, Lyden, Roberts & Severance, franchise didefinisikan sebagai sebuah kontrak atas barang yang intangible yang dimiliki oleh seseorang seperti merek yang diberikan kepada orang lain untuk menggunakan barang tersebut pada usahanya sesuai dengan teritori yang disepakati.







BAB III


PEMBAHASAN


Menurut ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar, merek adalah aset dan strategi untuk memenangkan hati konsumen serta memenangkan persaingan bisnis. Tanpa kehadiran merek yang kuat, kita sebagai pebisnis akan sulit untuk meningkatkan kinerja bisnis. Populer saja tidak cukup, karena profitabilitas juga harus dibuktikan dan terwaralaba tidak sampai menyesal di kemudian hari, karena banyak yang populer tapi tidak profitable.
Semua pebisnis pasti memimpikan memiliki merek yang kuat. Namun, sebelum mencapainya, setidaknya pebisnis harus bisa menciptakan mereknya ke level tertinggi awareness publik. 
Merek yang kuat akan bertahan dan memenangkan pasar. Manfaatnya sangat jelas. Sehingga bisnis yang memiliki merek kuat bisa menjadi faktor kesuksesan franchisee. Merek nantinya pun akan menjadi sebuah aset yang mewakili keseluruhan bisnis. Bagi bisnis franchise, semakin terkenal, kuat, dan terpercaya maka akan memudahkan franchisor untuk memperoleh pembeli. Oleh sebab itu membangun merek, mengenalkan merek ke konsumen merupakan strategi yang sangat penting.
Membangun merek memerlukan kerja keras dan stategi yang briliant. Apalagi jika tujuannya tidak sekedar dikenal saja, tetapi menjadi preferensi bagi konsumen untuk melakukan pembelian. Membangun merek juga tidak pernah mengenal kata berhenti. Merek harus terus dipertahankan pada level tertingginya. Ketika merek itu sudah menjadi top of mind, pemiliknya harus terus berusaha mempertahankannya. Selanjutnya, meningkatkan merek itu agar memiliki equitas yang tinggi, sehingga memiliki pelanggan yang loyal dan juga menjadi pilihan pertama konsumen dikategorinya.
Menurut Hermas Puspito, pengamat franchise dari TNS Marketing Research Agency, membangun merek yang besar untuk pemain di industri franchise membutuhkan setidaknya perencanaan yang meyeluruh mencakut marketing plan atau perencanaan pemasaran. Marketing plan berbicara tidak hanya tentang promosi melainkan keseluruhan stategi marketing dalam bisnis. Membangun merek membutuhkan planning, action serta measurement yang terintegrasi. Strategi meraih merek besar bisa dimulai dengan perencanaan yang baik dari Marketing Plan mencakup segmentasi yang tepat serta eksekusi marketing MIX mulai dari strategi produk & layanan, harga, promosi serta distribusi. Misalnya dalam strategi produk maka produk harus berkualitas, kemasan harus bagus sesuai keinginan konsumen, inovatif. Dalam strategi harga maka harga produk harus sesuai dengan segmen jelas konsumen. Strategi promosi, maka bisa menggunakan promosi secara offline dengan iklan di media konvensional, pendekatan komunitas ataupun promosi di media digital dengan social media marketing, web marketing, e marketing place, ataupun online Ads.
Tantangan dalam membangun merek besar biasanya dari dalam dan dari luar. Tantangan dari dalam biasanya tidak konsisten menjalankan strategi marketing, tidak menjaga kualitas produk, tidak konsisten menjalankan promosi sehingga merek yang dibangun jadi kurang maksimal. Sedangkan tantangan dari luar tentu saja kehadiran pesaing lama atau pesaing baru yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tingkat penjualan serta kinerja bisnis.
Dalam meraih merek yang kuat tidak ada patokan berapa lama. Membangun merek memang butuh waktu yang tidak singkat, perlu proses yang panjang untuk mengenalkan merek ke konsumen serta membangun kepercayaan konsumen. 
Untuk menjaga merek agar tetap sukses dalam persaingan bisnis adalah tidak berhenti melakukan inovasi, inovasi disini bisa dalam hal inovasi produk, inovasi layanan, serta inovasi dalam strategi promosi. Perlu tim marketing yang solid untuk memastikan produk tetap berkualitas dan tidak berhenti melakukan inovasi. Setelah produk yang berkualitas serta inovasi maka langkah selanjutnya adalah menjaga merek tetap ada dibenak konsumen.
Keuntungan top of mind brand tertentu saja kekuatan brand awareness dari merek tersebut. Merek menjadi sangat diingat oleh konsumen. Ketika merek diingat oleh konsumen maka mudah untuk melakukan sales activation, strategi promosi untuk meningkatkan penjualan. Namun top of mind tidak selalu positif , terkadang konsumen juga memiliki pengalaman tidak baik dengan produk atau merek yang pernah digunakan, misalnya kualitas dan layanan produk yang buruk akan menghasilkan negatif top of mind. Namun untuk menjadi top of mind yang buruk memang hanya pada saat kondisi ekstrim ketika suatu produk benar benar mengalami penurunan kualitas secara terus menerus ataupun merek tersebut terlibat dalam suatu masalah tertentu yang membuat konsumen memiliki persepsi negatif dengan merek tersebut.
Dan menurut pengamat franchise dari TNS Marketing Research Agency, Hermas Puspito, merek yang kuat bilainya bisa lebih besar dibandingkan dengan aset keseluruhan perusahaan. Bahkan sebuah logo juga penting dan kelak dapat berbicara. Membangun merek agar menjadi top of mind harus dimulai dengan membuat identitas merek yang kuat, unik dan menarik. Kedua, merancang strategi komunikasi yang terintegrasi untuk membuat merek itu bukan hanya dikenal, namun juga diposisikan secara kuat di benak konsumen dengan asosiasi yang kuat. Sehingga merek tersebut dapat menjadi preferensi dalam pertimbangan pembelian. 





BAB IV


PENUTUP



A. KESIMPULAN


 Dari uraian pembahasan mengenai pentingnya merek pada franchising, penulis mengambil kesimpulan agar pembaca lebih memahami isi pembahasan tersebut dan lebih bermanfaat untuk pembaca. 
Kesimpulan yang penulis ambil dari pembahasan di atas adalah merek merupakan salah satu penunjang bisnis franchise agar produknya dapat diingat dan menjadi top of mind. Dengan adanya merek yang kuat, maka perusahaan bertahan dan memenangkan pasar. Namun dalam membangun merek yang besar, dibutuhkan kerja keras. Tidak mudah untuk membangun merek yang dapat menjadi top of mind. Karena para pesaing yang semakin banyak, kualitas produk semakin bagus, dan teknologi pun semakin maju. Kita harus siap untuk menghadapi dunia bisnis franchise agar dapat bersaing dan menjadi pebisnis yang sukses. Dan kita harus bisa mempertahankan merek pada level tertingginya. Memberikan inovasi inovasi baru terhadap produknya, melakukan strategi promosi, pendekatan komunitas, atau promosi di media digital.



B. SARAN

Dalam menentukan merek apa yang akan dipakai sebaiknya lebih dipersiapkan secara matang agar kedepannya menjadi sebuah merek yang unggul dari produk lain. Selain merek yang akan dipakai, kualitas produk pun harus diperhatikan agar konsumen lebih mempercayai produk yang kita produksi. Dengan demikian produk kita dapat diterima oleh masyarakat.






DAFTAR PUSTAKA



"Merek adalah Aset" [Tajuk]. Franchise, No. 10/VIII, Oktober, h. 50-52